APBN Dibuat Lebih Progresif
Sabtu, 17 April 2010 | 03:46 WIB
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/17/03465742/23.juta.lapangan.kerja
Jakarta, Kompas – Jumlah lapangan kerja yang diharapkan tercipta tahun 2010 mencapai 2,32 juta sehingga ada 1,9 juta angkatan kerja baru dan sebagian dari pengangguran lama akan terserap. Target pertumbuhan ekonomi yang kini 5,8 persen diharapkan bisa mewujudkan harapan itu.
”Dengan pengurangan jumlah pengangguran itu, kami berharap tingkat pengangguran akan turun dari 7,9 persen (terhadap jumlah angkatan kerja) menjadi 7,6 persen,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Jumat (16/4).
Menurut Hatta, perhitungan jumlah lapangan kerja yang tercipta itu merunut kesepakatan dengan Komisi XI DPR pada 15 April 2010. Kedua pihak sepakat setiap 1 persen pertumbuhan bisa menciptakan 400.000 pekerjaan baru.
”Sebelumnya sempat diminta agar setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi menciptakan 600.000 lapangan kerja, namun kami ada pada posisi 350.000 lapangan kerja. Namun, akhirnya ada kesepakatan dengan Komisi XI menghendaki 400.000 lapangan kerja,” ungkap Hatta.
Turunnya pengangguran diharapkan akan semakin menekan jumlah penduduk miskin. Oleh karena itu, pada tahun 2010, pemerintah memperkirakan tingkat kemiskinan akan turun dari 14,1 persen menjadi 12-13,5 persen terhadap jumlah penduduk. Rasio ini diharapkan semakin mengecil pada tahun 2013, pada saat tingkat pengangguran ditekan ke level 5-6 persen.
Setelah melalui perdebatan yang alot selama tiga hari, akhirnya pemerintah yang diwakili Hatta Rajasa dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dengan Komisi XI DPR sepakat menetapkan asumsi-asumsi makroekonomi untuk APBN Perubahan 2010. Asumsi makro ini akan disampaikan kepada Badan Anggaran yang akan membahasnya kembali sehingga masih ada kemungkinan berubah.
Kesepakatan pemerintah dengan Komisi XI DPR adalah mengubah target pertumbuhan ekonomi dari 5,5 persen menjadi 5,8 persen. Adapun target laju inflasi ditetapkan 5,3 persen atau jauh lebih rendah dibandingkan usulan pemerintah sebelumnya, yakni 5,7 persen. Begitu juga target nilai tukar rupiah yang diubah dari Rp 10.000 per dollar AS dalam APBN 2010 menjadi Rp 9.300 per dollar AS.
Lebih progresif
Secara terpisah, Ketua Badan Anggaran Harry Azhar Azis mengatakan, kesepakatan asumsi makro di Komisi XI DPR itu menunjukkan sikap pemerintah dan DPR yang menghendaki APBN lebih progresif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Namun, khusus untuk target suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dinilai masih tinggi, 6,5 persen.
”Akan lebih baik jika suku bunga SBI tiga bulan lebih rendah lagi, yakni di level 6,3 persen. Ini akan memicu rendahnya suku bunga kredit dari perbankan yang penting bagi pengembangan investasi,” ungkapnya. (OIN)







