JEPANG
Jumat, 23 April 2010 | 04:44 WIB
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/23/04442356/sistem.perekrutan.pekerja.ancam.generasi.muda
Pemulihan ekonomi Jepang masih sangat rentan pascakrisis keuangan 2008. Dan, krisis ekonomi pada era 1990-an membuat generasi muda di negara itu merasakan akibatnya.
Hiroki (23) salah satu ”korbannya”. Dia telah melayangkan lamaran ke-40 perusahaan, mulai dari bidang teknologi informasi hingga perusahaan-perusahaan media besar. Namun, lamarannya tidak dibalas dengan tawaran berkarier. Daripada terperangkap bekerja paruh waktu, dari perusahaan satu ke perusahaan lain, tanpa jaminan apa pun, Hiroki memilih bergabung dengan sejumlah lulusan universitas lainnya.
Mereka menghindari apa yang dikatakan para pakar sebagai ”generasi yang hilang”, julukan bagi generasi muda Jepang yang terperangkap pekerjaan tak tetap, dengan gaji yang kecil tanpa kepastian masa depan.
”Jika Anda menjadi seorang pekerja lepasan, tidak ada jaminannya,” tegas Hiroki.
Jepang pernah mengalami kehilangan generasi ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda sebagian besar negara di kawasan Asia pada tahun 1990-an. Akibat krisis ekonomi itu, rentang waktu 1994-2004 dikenal sebagai ”Abad Kebekuan” karena sulitnya orang mendapat pekerjaan tetap di Jepang.
Para pemimpin mengkhawatirkan terjadi lagi ”Generasi Hilang” kedua karena perusahaan sangat berhati-hati dalam menambah jumlah pekerja tetap, dan lebih memilih para pekerja tidak tetap. Hal itu merupakan penghambur-hamburan potensi sumber daya manusia yang telah susah payah dipertahankan dengan menyubsidi pendidikan bagi para warga hingga lulus dari perguruan tinggi.
Padahal, di sisi lain, Jepang kini tengah menghadapi jumlah warga usia muda yang kian menciut sehingga populasi negara itu didominasi warga berusia lanjut.
Sejumlah pakar ikut mengkhawatirkan ”Generasi Hilang” babak kedua. Beberapa pihak mengkritik upaya Perdana Menteri Yukio Hatoyama yang mencoba mengatasi masalah dengan membatasi penggunaan pekerja tidak tetap. Tindakan ini justru dianggap memperburuk masalah.
”Hal yang harus dilakukan adalah menegaskan perlindungan dan terjaminnya lapangan kerja tetap, mempermudah pergantian pekerjaan, meningkatkan mobilitas pensiun, dan mempersempit perbedaan besar antara karyawan tetap dan tidak tetap,” ungkap Richard Jerram, kepala ekonom di Macquarie Securities Limited, Jepang.
Pemerintah Jepang justru melakukan hal sebaliknya, membatasi penggunaan pekerja lepas. Hasilnya adalah hilangnya antusiasme korporasi untuk mempekerjakan orang di saat keuangan perusahaan sedang sulit.
Tetap kecil
Meski mengalami penurunan tajam kegiatan ekonomi dan pemulihan yang lambat, tingkat pengangguran di Jepang membuat iri banyak negara lain, yaitu 4,9 persen. Meski mengalami ”Era Kebekuan”, sekitar 90 persen lulusan universitas tetap mendapat pekerjaan.
Ini adalah buah dari sistem yang diberlakukan perusahaan-perusahaan sejak lama. Korporasi mempekerjakan para lulusan baru setiap bulan April. Sistem itu efektif di saat perekonomian Jepang sangat kuat. Kini perekonomian Jepang sedang lemah dan membuat peluang para pekerja mendapatkan pekerjaan yang stabil dan karier yang jelas semakin sempit.
”Ada sejumlah orang yang kemudian menjadi pekerja tetap setelah bekerja sebagai karyawan honorer. Namun, jumlahnya tidak banyak,” kata Shin Hasegawa, Wakil Rektor Aoyama Gakuin University, Tokyo.
Ketika ekonomi Jepang berkembang pesat pasca-Perang Dunia II, para pekerja diikat bekerja seumur hidup, diberikan pelatihan, dan peningkatan gaji.
Namun, kini pola perekrutan seumur hidup telah berganti dengan merekrut para pekerja tidak tetap demi menghemat pengeluaran. ”Untuk melindungi gaji tinggi para pekerja senior, perusahaan mengorbankan kesempatan para generasi muda,” kata Naohiro Yashiro, profesor ekonomi di International Christian University, Tokyo.
Pesan yang hendak disampaikan adalah perlunya Jepang mengubah sistem lama agar pekerja baru tidak dikorbankan demi kepentingan karyawan lama semata. (Reuters/OKI)








Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru hari ini berjudul : “Analisa usaha cuci sepeda motor (lanjutan)”, serta artikel lain yang menarik, dan kalau berkenan mohon diberi komentar. Terima kasih.