Gerakan Massa Turun, Nasib Buruh Suram

Posted: 24 April 2010 in Naker, Uncategorized
Tag:, ,

Tenaga Kerja
Sabtu, 24 April 2010 | 14:14 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/14142184/gerakan.massa.turun.nasib.buruh.suram

Semarang, Kompas – Sejalan berlakunya perdagangan bebas ASEAN-China, prospek buruh di Jawa Tengah semakin memburuk. Kondisi itu diperparah dengan kenyataan bahwa sepanjang triwulan I/2010, sebanyak 34 aksi unjuk rasa buruh ternyata tidak didukung organisasi atau serikat buruh yang solid.

“Praktik upah murah, pengurangan volume ekspor, serta maraknya pemutusan hubungan kerja terhadap buruh di Jateng makin tidak terdeteksi, setelah banyak aktivis buruh yang dulu lantang kini kehilangan basis massa,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Wahyu Sosial (YAWAS) Khotib Sunhaji saat memaparkan laporan perkembangan buruh di Jateng, Jumat (23/4), di Semarang.

Khotib mengatakan, selama periode Januari-Maret, ternyata buruh di sektor perkayuan dan sektor tekstil kehilangan kendali perjuangannya. Terbukti, keluhan buruh di sektor tekstil dan perkayuan yang memperoleh upah rendah tidak lagi terdengar, padahal kegiatan perjuangan buruh kedua sektor itu sebelumnya gencar.

Upah buruk di sektor tekstil dan perkayuan di Kota Semarang, menurut Karyono, pekerja di pabrik tekstil di Mranggen, Demak, tidak lebih Rp 835.500 per bulan. Rendahnya upah buruk di kedua sektor ini makin memprihatinkan mengingat sektor ini paling terkena gempuran perdagangan bebas ASEAN-China.

Khotib Sunhaji menyampaikan, menurut kajian YAWAS, kondisi buruh di kedua sektor ini pun makin tidak terkontrol. Praktik PHK sulit diawasi setelah mata rantai aktivis buruh mulai meninggalkan basis kontrol pengusaha di pabrik-pabrik.

“Kelemahan kontrol aktivis terhadap nasib buruh makin sulit setelah instansi tidak lagi mengeluarkan daftar rincian buruh tetap di Jateng. Celakanya, jumlah serikat buruh yang benar-benar memperjuangkan nasib buruh juga mulai rontok di pabrik-pabrik yang beroperasi sekarang ini,” kata Khotib.

Kota-kota yang mengalami penurunan kegiatan memperjuangkan buruh hampir merata, mulai di Semarang, Solo, Jepara, Kudus, serta Karanganyar. Solo yang terkenal sebagai kota industri baru setelah Semarang tercatat hanya terjadi lima kali untuk rasa dan pesertanya pun kurang lebih 21 orang.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Tengah Djoko Wahyudi menyatakan, harus diakui upah yang diterima buruh di Jateng masih paling rendah dibanding provinsi lain di Jawa. Namun, dari segi perkembangan investasi, Jateng paling kondusif sehingga era perdagangan bebas ASEAN-China mendorong pengusaha China merelokasi industrinya ke Jateng, seperti sepatu dan elektronika. (WHO)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s